Beranda Makassar POJOK RAMADAN : Ramadan sebagai Rahmat, Pengampunan, dan Pembebasan

POJOK RAMADAN : Ramadan sebagai Rahmat, Pengampunan, dan Pembebasan

Ustad Muhammad Kasem membawakan tausiyah di Masjid Nurul Amir, Komplek Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (24/5/2018)

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Sering kita mendengar dalam bulan Ramadan dibagi dalam 3 bagian, yakni Ramadan sebagai rahmat, Ramadan sebagai pengampunan, dan Ramadan sebagai pembebasan dari api neraka.

Demikian penjelasan Ustad Muhammad Kasem dalam tausiyahnya di Masjid Nurul Amir, Komplek Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulsel, Kamis (24/5/2018).

Muhammad Kasem menjelaskan, Ramadan secara keseluruhan adalah bulan rahmat. Sebab, tanpa rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, maka hadirin sekalian tidak bisa berada di masjid ini.

Begitu juga Ramadan secara keseluruhan adalah bulan pengampunan. Karena tanpa pengampunan Allah, maka pasti umat manusia tidak bersih dari noda dan dosa. Dan tanpa pembebasan dari api neraka, maka tidak mungkin pintu neraka itu ditutup.

“Makanya Allah mengingatkan bahwa wahai orang-orang yang ingin berbuat maksiat maka berhentilah karena pintu-pintu neraka ditutup,” kata Ustad Muhammad Kasem.

Di tempat yang sama, Muhammad Kasem mengajak para jamaah untuk berbangga dan berbahagia menyambut bulan Ramadan. Karena, kehadiran bulan Ramadan itu telah disambut gembira oleh alam dan seisinya. Tidak hanya itu, momentum bulan Ramadan harus dimanfaatkan untuk berbuat kebajikan.

“Seluruh penjuru langit mengatakan, sungguh bahagia umat Muhammad yang mendapatkan Ramadan,” jelas Muhammad Kasem.

Dia mengatakan, terdapat 2 kebahagiaan bagi orang-orang yang berupuasa Ramadan. Pertama adalah ketika datangnya waktu berbuka. Dan kedua adalah ketika bertemu dengan Tuhannya Allah azza wajallah di akhir zaman.

Puasa merupakan ibadah siir atau ibadah yang tidak nampak. Puasa hanya mengisyaratkan hubungan antara manusia dengan Allah. Tidak ada satu pun di antara manusia yang mengetahui secara pasti ganjaran dari amal ibadah puasanya.

“Maka kita tidak boleh mencela orang lain yang berpuasa. Tapi mari fokus meraih kemanagan taqwa dalam puasa kita,” tandas Muhammad Kasem.

(muh fadly/pojoksulsel)