Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi memulai langkah strategis menuju transformasi ekonomi hijau dengan menyelenggarakan Sosialisasi Perencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP), Rabu (24/9/2025) di Hotel Maxone Makassar dan secara daring.
Acara dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba. Pihaknya menegaskan komitmen menuju ekonomi hijau selaras dengan arah pembangunan jangka panjang Sulawesi Selatan dalam RPJPD 2025–2045.
“Rencana ini bukan sekadar wacana, tapi pijakan strategis dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, berketahanan iklim, berketahanan pangan, dan responsif gender,” ujar Since Erna Lamba dalam sambutannya.
Kepala Kerjasama Pembangunan Canada, Alice Birnbaum yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan dukungan Pemerintah Kanada terhadap upaya transformasi ekonomi hijau di Sulsel. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan adalah tantangan global yang hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas negara.
“Kami bangga bisa mendukung Sulawesi Selatan dalam perjalanan menuju pembangunan yang inklusif dan ramah lingkungan,” kata Alice.
Sementara itu, Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, mengungkapkan bahwa Kabupaten Bone telah menjadi wilayah percontohan sejak 2021. Sejumlah inisiatif lapangan telah dilaksanakan, mulai dari praktik agroforestry, restorasi ekosistem, hingga pemberdayaan unit usaha masyarakat.
“Hari ini bukan hanya dokumen perencanaan yang kita miliki, tapi juga contoh nyata dari Kabupaten Bone yang siap direplikasi oleh daerah lain,” tegas Andree.
Dalam rancangan GGP, terdapat tujuh strategi utama yang direkomendasikan, mulai dari tata ruang dan lahan terintegrasi, pengembangan sektor unggulan, penguatan UMKM dan koperasi, hingga restorasi daerah aliran sungai (DAS) dan pemanfaatan instrumen ekonomi lingkungan.
Jika strategi ini berjalan optimal, PDRB Sulsel diproyeksikan tumbuh rata-rata 0,6% lebih tinggi dibandingkan skenario business as usual (BAU). Selain itu, intensitas emisi juga diperkirakan turun drastis hingga 0,20 tonCO₂eq/miliar rupiah, jauh lebih rendah dari skenario BAU sebesar 2,19 tonCO₂eq/miliar rupiah.
Sebagai provinsi yang masih ditopang sektor berbasis sumber daya lahan, Sulawesi Selatan menghadapi tantangan penurunan produktivitas pertanian akibat berkurangnya daya dukung lingkungan. Karena itu, GGP dipandang sebagai pijakan penting untuk menjaga ketangguhan iklim, keberlanjutan lingkungan, sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Program ini dimotori oleh Pokja Ekonomi Hijau Provinsi Sulsel bersama Bappelitbangda, dengan dukungan ICRAF Indonesia melalui riset-aksi Land4Lives yang disokong Pemerintah Kanada.












