Beranda Headline News Pileg 2019, “Mimpi Buruk” Bagi Partai Golkar Sulsel

Pileg 2019, “Mimpi Buruk” Bagi Partai Golkar Sulsel

HERALDMAKASSAR.com – Pemilihan legislatif pada 2019, boleh jadi sebagai “mimpi buruk” bagi Partai Golkar. Meski tetap sebagai pemenang pemilu di Sulsel, namun perolehan suara partai di berbagai kabupaten dan kota mengalami penurunan yang sangat drastis.

Di pileg DPR RI saja, partai warisan pemerintahan Orde Baru ini, hanya mampu mendudukkan 4 wakilnya di Senayan, atau mengala penurunan satu kursi jika dibanding dengan perolehan pileg 2014. Rinciannya, satu kursi di dapil 1 dan 3, dan dua kursi di dapil 2.

Di tingkat provinsi, lebih jeblok lagi. Partai berlambang pohon beringin ini “nyaris” kehilangan kursi ketua DPRD Sulsel, dengan hanya mengantongi 13 kursi dari 18 kursi pada 2014 lalu.

Perolehan ini, juga menunjukkan angka paling buruk sepanjang reformasi. Di era Ilham Arief Sirajuddin, partai ini mampu menempatkan 18 wakilnya di Provinsi Sulsel pada pileg 2009. Angka ini mampu dipertahankan Syahrul Yasin Limpo pada pileg 2014.

Sayangnya, setelah Golkar dikendalikan Nurdin Halid, jumlah kursi di DPRD Sulsel justru jeblok hanya menjadi 13 kursi atau hanya selisih 1 kursi dengan Partai Nasdem yang memperoleh 12 kursi.

Runtuhnya dominasi Partai Golkar juga terjadi di sejumlah kabupaten dan kota di Sulsel. Pada pileg 2014, partai ini mampu menempatkan 17 kadernya sebagai Ketua DPRD, termasuk Ketua DPRD Sulsel. Di pileg 2019 ini, hanya menang di 10 kabupaten dan kota. Itu artinya, jatah Ketua DPRD hanya ada 11 plus provinsi.

Kabupaten yang dimenangi Golkar hanya Maros 7 kursi, Parepare 5 kursi, Enrekang 6 kursi, Tana Toraja 7 kursi, Luwu Timur 7 kursi, Luwu Utara 8 kursi, palopo 5 kursi, Soppeng 12 kursi, Bone 9 kursi, dan Selayar 10 kursi.

(AZS)