Beranda Makassar Aira, si Bocah Aktivis Lingkungan yang Bercita-cita Menjadi Petani

Aira, si Bocah Aktivis Lingkungan yang Bercita-cita Menjadi Petani

HERALDMAKASSAR.com – Pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sepenggal kalimat itu melekat pada sosok Andi Nisfatul Aira.

Murid kelas IV SD Negeri Patompo Makassar ini sudah menjadi aktivis lingkungan sejak usia dini, dan gemar bercocok tanam alias bertani.

Aira, demikian dia disapa, kini berusia sembilan tahun. Sejak ia berumur empat tahun, ia belajar ‘diet plastik’ dari orang tuanya. Sebagaimana dikutip dari mongabay.co.id, Aira tak menggunakan kantong plastik ketika belanja, selama belanjaan masih bisa dipegang. Ikut tanam mangrove, kelompok pecinta sungai, dan lain-lain.

Setiap hari Aira membantu ibunya merawat tanaman dan membuat kompos. Berangkat dan pulang sekolah, dia memunguti sampah. Khususnya sampah yang bisa dibuat untuk pupuk kompos.

“Pernah ada yang negur kalau itu jorok, tetapi saya bilang ini mau dibuat kompos tanaman. Saya tidak pernah malu,” katanya.

Aira yang tinggal di Cendrawasih III No 28 Kompleks Patompo, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini, ternyata bercita-cita menjadi petani.

Ahmad Yusran dan Indrawati, kedua orangtuanya Aira sangat mendukung cita-cita putri bungsunya ini.

Kini, ia bersama ibunya mengembangkan urban farming memanfaatkan pekarangan rumah yang sempit. Biasanya urban farming menggunakan barang-barang buangan. Begitupun dengan Aira, hanya tidak lazim saja. Ia menggunakan sepatu bekas dan sisa botol plastik diubah menjadi media tanaman.

Melihat sisa sepatu yang tak terpakai ia menyulapnya menjadi pot yang cantik. Botol mineral juga disulap menjadi pot untuk tanaman kangkung.

Pot tanaman dari sepatu bekas ini punya cerita tersendiri. Tetangganya, pedagang sepatu, kecurian. Mungkin malingnya terburu-buru sehingga sebagian sepatu yang dicuri tercecer di depan rumahnya. Beberapa di antaranya hanya tertinggal sebelah saja. Karena tak lagi terpakai, Aira meminta sepatu itu. Terlintas ide di kepalanya untuk dijadikannya sebagai pot tanaman.

“Kami perkenalkan bagaimana menggunakan plastik sebaik mungkin, tentang mengurangi atau meminimalkan kehadiran plastik dalam kehidupan sehari-hari, di dalam atau di luar rumah. Kami membangun budaya menjaga dan memelihara lingkungan agar tidak rusak karena plastik,” ujar Ahmad Yusran, ayah Aira, yang berprofesi sebagai seorang aktivus lingkungan dan jurnalis.

Indrawati sendiri kini memang tengah mengembangkan pertanian organik di pekarangan rumahnya yang tak begitu luas. Sekaligus membuat sendiri pupuk organik, berbentuk kompos dan cair.

Melihat minat Aira yang besar untuk bertani, Indrawati mulai mendidik khusus.

“Saya ajarkan memanfaatkan daun-daun kering. Buah yang jatuh di pinggir jalan, bijinya saya suruh ambil, ditanam siapa tahu bisa tumbuh. Aira juga membantu mengambil air bilasan beras di tetangga pengusaha catering. Bilasan pertama beras itu jangan dibuang karena bagus untuk bahan pembuatan pupuk.”

Indrawati mengakui kemampuan Aira bertani sudah semakin berkembang. Kalau dulunya hanya membantu mencari bahan pembuatan pupuk, kini Aira sudah bisa menanam dan membuat pupuk sendiri.

(NUR FAJRI)